Hakekat Kepemimpinan
M. Zuhri Hasibuan
Kepemimpinan selalu menjadi objek pembicaraan yang menarik sepanjang sejarah manusia di manapun. Hal ini antara lain disebabkan betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin baik dalam satu kelompok masyarakat, dalam sebuah organisasi atau negara bahkan dunia. Betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin, lihat saja misalnya Presiden Amerika Serikat George Bush, disebabkan keputusannya, ribuan nyawa manusia hilang dengan sia-sia di Irak. Kita pernah mendengar kisah pemimpin yang arif bijaksana, otoriter sampai pemimpin yang kejam.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang kepemimpinan dalam sebuah hadits sebagaimana artinya “Dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan, dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya, dan ia bertanggung jawab atas keselamatan dan keutuhan hartanya”. Abdullah berkata : “Aku mengira Rasulullah mengatakan pula bahwa seseorang adalah pemimpin bagi harta ayahnya dan bertanggung jawab atas keselamatannya. Semua kamu adalah pemimpin dan bertangggung jawab atas segala yang dipimpinnya”. (H.R. Bukhari).
Berdasarkan sabda Nabi di atas, setiap manusia adalah pemimpin. Dengan demikian siapa yang disebut pemimpin berbeda dengan apa yang difahami oleh banyak orang. Sebab banyak orang menganggap bahwa dirinya bukanlah pemimpin. Misalnya kita sering mendengar ucapan, saya ini hanyalah seorang bawahan, seorang rakyat kecil, seorang petani, seorang pembantu rumah tangga. Yang disebut pemimpin adalah mereka yang menduduki jabatan tertentu dalam suatu organisasi. Dalam hadits tersebut digambarkan bahwa yang menjadi pemimpin bukan hanya mereka yang menduduki jabatan tertentu. Seorang pembantu pun bisa disebut pemimpin. Yang ditonjolkan dalam kepemimpinan bukanlah tingkat jabatannya tapi pertanggungjawabannya. Pertanggungjawaban muncul karena adanya sikap dan perilaku atau tindakan. Dengan demikian kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan baik di depan manusia maupun di hadapan Tuhan. Jabatan juga amanah, bukan hak milik. Oleh karena itu melepas jabatan adalah hal biasa, karena bukan hak milik. Di samping siap memimpin siap pula dipimpin.
Setiap manusia itu adalah pemimpin, paling tidak memimpin dirinya sendiri. Kemampuan memimpin diri ini menjadi penting, lebih-lebih jika ingin memimpin orang lain. Dalam satu pernyataan bijak disebutkan : Sebelum anda mampu memimpin orang lain, anda harus mampu memimpin diri sendiri. Seperti kata Kung Fu, Memimpin diri sendiri adalah prasyarat sebelum kita dapat memimpin orang lain. Ini merupakan suatu tahapan dan proses yang tidak dapat dibalik (Arvan, 2003). Banyak pemimpin tidak berhasil atau mengalami kejatuhan karena mereka sendiri belum mampu memimpin dirinya sendiri.
Power dalam Kepemimpinan
Apakah seorang yang menduduki jabatan, memiliki karyawan puluhan, ratusan bahkan ribuan orang dapat dikatakan pemimpin ? Menurut Arvan (2003), disinilah letak kerancuannya. Ini namanya kepemimpinan semu (pseudo leadership). Yang benar, Anda adalah manajer. Manajer berkaitan dengan posisi, tetapi kepemimpinan berkaitan dengan tindakan anda, dengan apa yang anda lakukan. Jadi, kalau manajer ditumbuhkan dari luar, kepemimpinan adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam. Pisahkan kepemimpinan dari segala yang ada di luar kita: pangkat, jabatan, kedudukan dan sebagainya. Kepemimpinan adalah sikap, tindakan, perilaku, kebiasaan dan krakter kita sendiri.
Dalam kepemimpinan formal diakui bahwa kedudukan atau jabatan ikut mempengaruhi kesuksesan seorang pemimpin, karena kepemimpinan itu sendiri adalah proses mempengaruhi orang lain. Seorang pemimpin bisa mempengaruhi orang lain jika ia memiliki kuasa (power). Kedudukan/jabatan tersebut diakui dapat menimbulkan kuasa (power) bagi seorang pemimpin. Pakar kepemimpinan seperti Amitai Etzioni mengemukakan bahwa kuasa (power) ada dua macam. Pertama disebutnya kuasa posisi (position power). Seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu karena posisinya dalam organisasi, dipandang memiliki kuasa posisi (position power). Contohnya seorang bawahan bersedia mengerjakan perintah atasannya, karena kedudukan atasannya. Penyebab kepatuhan lainnya karena si bawahan takut mendapatkan sangsi atau karena mengharapkan penghargaan dari atasannya. Kedudukan/jabatan merupakan kekuatan karena posisi (position power). Position power ini sesungguhnya berada di luar diri pemimpin itu sendiri, dan kekuatannya hanya bersifat sementara, yakni ketika ia menduduki jabatan tertentu. Kekuatannya akan hilang sejalan dengan hilangnya jabatan karen position power ini berada di luar diri seseorang pemimpin.
Kedua adalah kuasa pribadi (personal power). Kuasa pribadi ini adalah orang-orang yang memperoleh kuasa dari pengikutnya. Pengikut dengan sukarela bersedia menuruti saja perintah pemimpin karena menurut dia memang pantas untuk diikuti, tanpa ada rasa takut mendapatkan sangsi. Pengikut menaruh rasa hormat ketika berada di depan maupun di belakang pemimpin bahkan walaupun sudah tidak menduduki jabatan lagi. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang kharismatik. Pendapatnya, nasehatnya selalu didengar, ia diperlakukan sebagai seorang tokoh panutan. Pemimpin seperti ini adalah mereka yang memiliki kelebihan dibidang intelektual dan keperibadian yang mantap. Intelektual dan kepribadian tersebut berada dalam diri seseorang. Nampaknya personal power inilah yang disebut Arvan sesuatu yang tumbuh dari dalam diri pemimpin itu sendiri, sedang jabatan sebagai position power disebutnya berada di luar diri seorang pemimpin. Idealnya seorang pemimpin memiliki kedua kuasa (power) tesebut.
Karakteristik Kepemimpinan
Siswono Yudohusodo, menjelaskan bahwa kepemimpinan hakekatnya “State of mind and state of the sprite (sikap alam pikiran dan sikap kejiwaan) yang merasa terpanggil untuk memimpin dengan segala macam ucapan, perbuatan dan perilaku hidup, untuk mendorong dan mengantarkan yang dipimpin ke arah cita-cita luhur bersama dalam segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam berapa tulisan sering diungkapkan bahwa pemimpin itu lebih ke doing the right thing (melakukan hal-hal yang benar, memperjuangkan kebenaran). Inilah salah satu perbedaan pemimpin (leader) dengan seorang manajer yang lebih berfokus pada doing thing right (mengerjakan sesuatu secara benar). Namun demikian seorang pemimpin tidak bisa lepas dari keterampilan majerial.
Agar kepemimpnan itu berjaalan efektif, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan. Menurut Siswono kelebihan yang harus dimiliki pemimpin adalah :
1. Di bidang alam pikiran, ketajaman intelektual untuk mengawasi situasi, mengenali perkembangan, mengantisipasi apa yang akan terjadi.
2. Kelebihan di alam kejiwaan spritual, yakni keteguhan jiwa dan semangat, keluhuran moral, etika dan akhlak.
Pakar kepemimpinan lain, termasuk dari barat sependapat bahwa aspek moral dan akhlak merupakan krakteristik utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pakar kepemimpinan James M. Kouzes dan Barry Z. Pozner ( dikutip Tanri Abeng, 1997) misalnya menemukan dari 20 krakteristik yang umumnya dimiliki pemimpin yang dikagumi, peringkat pertama adalah aspek kejujuran. Peringkat berikutnya baru berpandangan jauh ke depan, inspiratif, kompeten dan seterusnya
Arvan (2002) menjelaskan bahwa pendekatan kepemimpinan menghasilkan hal-hal seperti : kejujuran (honesty), integritas (ntegrity), dapat di percaya (trust), komitmen (commitment), tanggung jawab (responsibility), kematangan (maturity), kebersamaan (togetherness), motivasi (motivation), pemberdayaan (empowerment), rasa memiliki (sense of belonging).
Nilai-nilai tersebut sudah dikenal dan diakui orang sejak berabad-abad yang lalu bahkan sejak pertama kali manusia berada di dunia ini. Konsep-konsep kuno inipun akan terus menerus dibutuhkan oleh siapapun, di manapun, dan kapanpun. Konsep-konsep inilah rahasia kesuksesan orang di Timur maupun Barat, di Utara maupun di Selatan, di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Mengapa hal-hal yang disebutkan di atas tidak bisa lapuk ? Karena hal-hal tersebut adalah prinsip-prinsip dasar kehidupan. Prinsip-prinsip hidup inilah yang mengatur kita, jangan dibalik, yakni mengutak-atik yang prinsip. Siapa saja yang berani mengatur-atur prinsip sesuai dengan keinginannya, pada saatnya cepat atau lambat akan menerima resikonya.
Kepemimpinan akan menghasilkan orang-orang jujur sehingga mereka tidak mau melakukan tindak kejahatan seperti korupsi. Mereka tidak mau melakukan korupsi walaupun bisa atau memempunyai kesempatan untuk melakukannya. Disinilah bedanya dengan manajemen, yaitu membuat orang tidak bisa melakukan korupsi dengan membuat sistem keuangan yang ketat misalnya, sehingga mereka tidak bisa melakukan korupsi karena peluang untuk melakukannya sudah tertutup. Jadi kalau pendekatan manajemen kita umpamakan memagari dan membuat teralis untuk pengamanan dari sebuah rumah, pendekatan kepemimpinan adalah mengubah manusianya supaya tidak mencuri, merampok dan memasuki rumah orang lain tanpa ijin. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang mampu mengajak pengikutnya menjadi manusia yang berakhlak mulia, mengikuti salah satu misi Nabi Muhammad : Li utammimma makrimal akhlaq (untuk menyempurnakan akhlaq manusia menjadi akhlak yang mulia).
Kesimpulan
Pemimpin yang dikagumi itu sesungguhnya adalah pemimpin yang berkarakter, yang berakhlak mulia yang mampu memotivasi para pengikutnya/bawahannya ke arah nilai-nilai luhur yang dicita-citakan.
Penulis adalah Widyaiswara Madya pada Balai Diklat Keagamaan Padang






